Sky-Line
Forum | Sky-Line.N-Stars.org
Selamat Datang di FORUM Sky-Line.N-Stars.org
Bgi yg blm mendaftar klik pendaftaran/register
bgi yg sdh mendaftar klik login....

Terima kasih
By Admin Sky_Line

TRADISI SUNDA

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

default TRADISI SUNDA

Post by Admin on Sat Feb 05, 2011 3:17 am

Tradisi Sunda
Ada yang bertanya pada penulis: kesenian apa yang
menjadi ciri khas daerah Tasikmalaya? Tentulah yang dimaksud si penanya
adalah kesenian yang bisa dikatakan atau diakui sebagai identitas
kultural Tasikmalaya, sebagaimana Cianjur punya cianjuran, atau Ponorogo
dengan reognya, Subang dengan sisingaannya, dll.

Ada bermacam
aspek yang melatarbelakangi sebuah kesenian bisa dianggap mampu menjadi
'brand image' sebuah daerah. Kita tahu, di Tasikmalaya, terutama
kabupaten, sangat banyak kesenian tradisi yang sekarang masih hidup dan
‘dihidupi’ oleh senimannya. Tetapi umumnya kesenian tradisional di
Tasikmalaya, bukanlah kesenian yang benar-benar khas daerah ini. Dan
hingga saat ini belum ada penelitian yang mendalam untuk
mengidentifikasi asal muasal berbagai jenis kesenian tradisional yang
ada di tengah masyarakat Sunda ini.

Misalnya tarawangsa. Seni
yang namanya merujuk pada waditra utamanya, yakni tarawangsa, alat musik
gesek, selain terdapat di Cibalong, Tasikmalaya, juga terdapat di
Banten dan Sumedang. Yang membedakannya hanya waditra pelengkap yang
berbeda. Di Cibalong, tarawangsa dimainkan bersama kecapi dan calung
rantay, untuk mengiringi jurukawih yang menyanyikan lagu semacam
“Pamapag”, “Manuk Hejo”, “Lokatmala”, dll. Di Banten, tarawangsa yang
juga disebut rendo diiringi kacapi indung, dan di Sumedang, waditra yang
punya nama lokal ngekngek ini hanya dimainkan bersama kecapi berdawai
kawat tujuh utas.

Kesenian lain pun sama. Kesenian ebleg di
Cineam punya saudara kembar bernama kesenian ebeg di Garut. Demikian
juga kesenian terebang, pantun beton, lais, karinding, dll, juga
terdapat di daerah lain dan sukar untuk dipastikan di daerah mana
kesenian itu ‘dilahirkan’. Bedanya, mungkin, banyak kesenian yang di
daerah lain telah nyaris pupus, di Tasikmalaya masih bisa dengan mudah
ditemukan. Dan, sebuah kesenian yang telah begitu lama menjadi bagian
dari kultur masyarakat di sebuah daerah, maka kesenian itu adalah juga
milik daerah tersebut. Yang musti kita lakukan sekarang adalah
melestarikannya, agar kita tidak kehilangan salah satu identitas penting
sebagai manusia berbudaya.

Upaya pelestarian ini harus dilakukan
mula-mula dengan itikad untuk menghargai dan menyelamatkan warisan
budaya, dan bukan sekedar ‘puraga tamba kadenda’ apalagi mencari uang
lebih dari proyek yang mengatasnamakan pelestarian. Melestarikan
kesenian tidaklah cukup dengan membagikan perkakas waditra ke tiap
kelompok saja, tetapi juga harus disertai dengan program pelatihan untuk
calon penerus, dan yang tak kalah pentingnya adalah upaya untuk
mendekatkan kesenian tersebut dengan masyarakat lebih luas.

Terkait
dengan upaya tersebut, salah satu cara yang umum dilakukan oleh
berbagai daerah, adalah lewat festival kesenian atau festival budaya.
Seperti Festival Melayu di Riau, Festival Seni Sendawar di Kutai Barat,
Festival Kesenian Yogyakarta, Festival Keraton di Cirebon, Festival Cak
Durasim dan Festival Seni Surabaya di Jawa Timur, dll.

Mengapa
festival? Festival yang secara etimologis berasal dari bahasa latin
festum ini mempunyai dua terminologi untuk peristiwa bersifat pesta,
yakni festrum yang berarti “kegembiraan bersama, keriangan, kesukariaan
yang gaduh”, dan feria yang berarti “serangkaian kegiatan untuk
menghormati para dewa”. Dari kata ini di berbagai bangsa kemudian lahir
kata festa, fetes, fiesta dan festival, dengan pengertian yang sama,
yakni penyelenggaraan sebuah acara yang melibatkan banyak orang.

Tentu
saja, menggelar acara semacam ini butuh kebersamaan semua pihak, bukan
hanya dinas intansi terkait, karena acara festival biasanya mencakup
ruang, isi, dan sampiran. Di sini ada lokasi yang digunakan, siapa saja
pengisinya, berapa biaya yang harus disiapkan, bagaimana cara menarik
perhatian calon penonton untuk datang dan menyaksikan acara ini, plus
persiapan segi pengamanan dan penyediaan berbagai fasilitas penunjang
baik untuk pengisi acara maupun penonton.

Peran aktif
pemerintahlah yang paling besar diharapkan untuk acara semacam ini. Di
tengah maraknya seni yang bersifat populis yang lebih menarik minat
seponsor, mungkin saja acara semacam ini tak akan menarik perhatian
mereka untuk ikut mendanai. Tapi bila kemudian festival ini bisa
dilaksanakan dan sukses secara massa, tentu akan lebih mudah untuk
mencari penyandang dana pada penyelenggaraan berikutnya. Bahkan bila
festival ini kemudian berhasil menjadi ikon dari Tasikmalaya, dengan
sendirinya akan menjadi sumber PAD yang besar dari sektor pariwisata.
Bukankah acara seperti ini yang kemudian dikenal dan mendatangkan devisa
bagi banyak negara, dan bahkan banyak daerah di negeri ini sebagaimana
dicontohkan di atas?

Berhitung untung rugi tentulah sangat
manusiawi. Tetapi bersikap peduli terhadap seni tradisi, adalah sebuah
keharusan. Kesenian tradisi yang berakar dari ruhani masyarakat di mana
kita menjadi bagian dari lingkungan masyarakat tersebut, selalu akan
menjadi oase di tengah membuncahnya kesenian lain yang berjarak dengan
nilai lokalitas kita, yang saat ini nyaris setiap saat bisa kita
dapatkan dari berbagai media.

Lewat acara festival seni semacam
ini, kesenian bukan hanya dilestarikan, tetapi diakrabkan kembali dengan
masyarakatnya. Tentu saja bila penyelenggaraannya serius, dengan
manajemen dan persiapan yang matang. Dan bila acara ini rutin
dilaksanakan, bukan tidak mustahil kita akan menemukan jenis kesenian
yang bisa dijadikan identitas kultural Tasikmalaya. Toh, semuanya masih
bisa kita upayakan, bukan?

Untuk hal semacam ini, kita tak harus
studi banding ke luar negeri. Cukup ke Kabupaten Ponorogo. Daerah ini
punya kesenian reog sebagai identitas kultural masyarakat setempat.
Meski reog ada juga di berbagai daerah, tetapi karena kesenian ini
tumbuh subur di tengah masyarakat Ponorogo, maka reoglah yang dipilih
sebagai ikon kesenian di kabupaten tersebut. Peran pemerintah sangat
jelas dalam hal ini. Pemerintah Kabupaten Ponorogo memprakarsai
penyelenggaraan festival reog Ponorogo, membidani lahirnya Yayasan Reog
Ponorogo, menandai batas antara kabupaten Ponorogo dengan Madiun dengan
gapura berhiaskan relief dan patung reog Ponorogo, menghiasi halaman
kantor pemerintah, alun-alun, dan sejumlah perempatan dengan patung
tokoh-tokoh legenda asal-usul kesenian tersebut. Bahkan, kata REOG pun
menjadi slogan kabupaten, yang kepanjangannya adalah Resik, Endah,
Omber, Gilar-gumilar. (Majalah Gong, 2006).

Demikianlah,
Tasikmalaya kaya dengan budaya lokal. Saatnya sekarang kita tunjukkan ke
dunia luas, lewat Festival Budaya Tasikmalaya. Tempatnya? Bisa di mana
saja, tentu saja tak hanya di Gedung Kesenian Tasikmalaya, yang kini
sepertinya dibiarkan menjadi sarang kelelawar dan tampaknya tinggal
menunggu waktu untuk rubuh. ***

AJARAN Islam di Tatar Sunda
selain telah mengubah keyakinan seseorang dan komunitas masyarakat Sunda
juga telah membawa perubahan sosial dan tradisi yang telah lama
dikembangkan orang Sunda. Penyesuaian antara adat dan syariah seringkali
menunjukkan unsur-unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan
sebelumnya. Hal tersebut dapat dipahami karena para penyebar Islam dalam
tahap awal menggunakan strategi dakwah akomodatif dengan
mempertimbangkan sistem religi yang telah ada sebelumnya.

Masuknya Islam ke Tatar Sunda

Abad
pertama sampai keempat hijriyah merupakan fase awal proses kedatangan
Islam ke Nusantara. Hal ini antara lain ditandai kehadiran para pedagang
Muslim yang singgah di berbagai pelabuhan di Sumatra sejak permulaan
abad ke-7 Masehi. Proses Islamisasi di tatar Sunda terjadi dan
dipermudah karena adanya dukungan dari kedua belah pihak yakni
orang-orang Muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan
masyarakat yang menerimanya.

Di tatar Sunda, menurut naskah
"Carita Parahiyangan" diceritakan seorang pemeluk agama Islam yang
pertama kali di tatar Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru
Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan
Galuh. Ia memilih hidupnya sebagai saudagar besar; biasa berlayar ke
Sumatra, Cina, India, Srilangka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah
dengan seorang Muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad.
Melalui pernikahan dengan seorang Muslimah ini, Bratalegawa memeluk
Islam, kemudian menunaikan ibadah haji dan mendapat julukan Haji
Baharudin. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di
kerajaan Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa.

Bila
kedatangan Haji Purwa di tanah Sunda tahun 1337 Masehi dijadikan titik
tolak masuknya Islam ke tatar Sunda, hal ini mengandung arti bahwa
pertama, agama Islam yang pertama kali masuk ke tatar Sunda berasal dari
Makah yang dibawa pedagang (Bratalegawa); dan kedua, pada tahap awal
kedatangannya, agama ini tidak hanya menyentuh daerah pesisir utara Jawa
bagian Barat, tetapi diperkenalkan juga di daerah pedalaman. Akan
tetapi, agama itu tidak segera menyebar secara luas di masyarakat
disebabkan tokoh penyebarnya belum banyak dan pengaruh Hindu dari
Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda Pajajaran terhadap masyarakat setempat
masih kuat.

Sementara itu, di Karawang terdapat sebuah pesantren
di bawah pimpinan Syekh Hasanuddin yang dikenal dengan sebutan Syekh
Quro sebagai penyebar dan guru agama Islam pertama di daerah Karawang
pada abad ke-15 sekira tahun 1416 sezaman dengan kedatangan Syekh Datuk
Kahpi yang bermukim di Pasambangan, bukit Amparan Jati dekat Pelabuhan
Muarajati, kurang lebih lima kilometer sebelah utara Kota Cirebon.
Keduanya lalu menjadi guru agama Islam dan mendirikan pesantren
masing-masing. Pesantren di Muara Jati semakin berkembang ketika
datangnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari Mesir.
Ia masih keturunan Prabu Siliwangi bermukim di Cirebon sejak tahun 1470
dan mulai menyebarkan syiar Islam ke seluruh wilayah tatar Sunda mulai
dari Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, Bogor, hingga Banten. Atas
perjuangannya, penganut kepercayaan animisme, dinamisme, agama Hindu,
dan Budha beralih menjadi Muslim, sedangkan penganut ajaran Sunda
Wiwitan merupakan agama asli orang Sunda tersisihkan ke pedalaman Baduy.

Pada
tahap awal, sebagaimana dilakukan Bratalegawa, penyebaran agama Islam
rupanya baru berlangsung secara terbatas di lingkungan tempat tinggal
para tokoh agama tersebut. Seiring terbentuknya pesantren-pesantren
sebagai tempat pembentukan kader ulama atau para guru agama yang
mendidik para santri, syiar Islam mulai berkembang pesat di tatar Sunda
sejak pertengahan abad ke-15.

Dari Sunda Wiwitan ke Sunda Islam

Pada
proses perkembangan agama Islam, tidak seluruh wilayah tatar Sunda
menerima sepenuhnya, di beberapa tempat terdapat komunitas yang bertahan
dalam ajaran leluhurnya seperti komunitas masyarakat di Desa Kanekes
Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak yang dikenal dengan masyarakat
Baduy. Mereka adalah komunitas yang tidak mau memeluk Islam dan
terkungkung di satu wilayah religius yang khas; terpisah dari komunitas
Muslim Sunda dan tetap melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan.

Dasar
religi masyarakat Baduy dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah kepercayaan
yang bersifat monoteis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan
kepercayaan kepada satu kekuasaan yakni Sanghyang Keresa (Yang Maha
Kuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat
(Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib) yang
bersemayam di Buana Nyungcung (Buana Atas). Orientasi, konsep, dan
pengamalan keagamaan ditujukan kepada pikukuh untuk menyejahterakan
kehidupan di jagat mahpar (dunia ramai). Pada dimensi sebagai manusia
sakti, Batara Tunggal memiliki keturunan tujuh orang batara yang
dikirimkan ke dunia melalui Kabuyutan; titik awal bumi Sasaka Pusaka
Buana. Konsep buana bagi orang Baduy berkaitan dengan titik awal
perjalanan dan tempat akhir kehidupan. (Garna, 1992:5).

Menurut
ajaran Sunda Wiwitan, perjalanan hidup manusia tidak terpisah dari wadah
tiga buana, yaitu (1) Buana Nyungcung sama dengan Buana Luhur atau Ambu
Luhur; tempat bersemayam Sang Hyang Keresa di tempat paling atas; (2)
Buana Panca Tengah atau Ambu Tengah yang dalam dunia pewayangan sering
disebut Mayapada atau Arcapada tempat hidup manusia dan mahluk lainnya;
dan (3) Buana Larang sama dengan Buana Handap atau Ambu handap yaitu
tempatnya neraka. Manusia yang hidup di Buana Panca Tengah suatu saat
akan menemui Buana Akhir yaitu Buana Larang, sedangkan proses
kelahirannya ditentukan di Buana Luhur. Antara Buana Nyungcung dan Buana
Panca Tengah terdapat 18 lapisan alam yang tersusun dari atas ke bawah,
lapisan teratas disebut Bumi Suci Alam Padang atau Kahyangan tempat
Sunan Ambu dan para pohaci bersemayam.

Pada pelaksanaan ajaran
Sunda Wiwitan di Kanekes, tradisi religius diwujudkan dalam berbagai
upacara yang pada dasarnya memiliki empat tujuan utama: yaitu (1)
menghormati para karuhun atau nenek moyang; (2) menyucikan Pancer Bumi
atau isi jagat dan dunia pada umumnya; (3) menghormati dan menumbuhkan
atau mengawinkan Dewi Padi; dan (4) melaksanakan pikukuh Baduy untuk
mensejahterakan inti jagat. Dengan demikian, mantra-mantra yang
diucapkan sebelum dan selama upacara berisikan permohonan izin dan
keselamatan atas perkenan karuhun, menghindari marabahaya, serta
perlindungan untuk kesejahteraan hidup di dunia damai sejahtera.

Masuknya
agama Islam ke tatar Sunda menyebabkan terpisahnya komunitas penganut
ajaran Sunda Wiwitan yang taat dengan mereka yang menganut Islam.
Masyarakat penganut Sunda Wiwitan memisahkan diri dalam komunitas yang
khas di pedalaman Kanekes ketika agama Islam memasuki kerajaan Pakuan
Pajajaran. Hal ini dapat ditemukan dalam cerita Budak Buncireung, Dewa
Kaladri, dan pantun Bogor versi Aki Buyut Baju Rambeng dalam lakon
Pajajaran Seureun Papan.

Secara sadar, masyarakat Kanekes dengan
tegas mengakui perbedaan mereka dengan masyarakat Sunda lainnya di luar
Kanekes hanyalah dalam sistem religi, bukan etnis. Menurut Djatisunda
(1992;2-3) mereka menyebut orang Sunda di luar Kanekes dengan sebutan
Sunda Eslam (orang Sunda yang beragama Islam) dan dianggap sebagai urang
Are atau dulur are. Arti dari istilah urang are atau dulur are
dikemukakan Ayah Kaiti bekas seurat Tangtu Cikeusik bahwa: harti urang
are ta, ja dulur are. Dulur-dulur na mah, ngan eslam hanteu sabagi kami
di dieu (arti urang are yaitu dulur are. Saudara sih saudara, tetapi
menganut agama Islam tidak seperti saya di sini). Ungkapan tersebut
memperjelas pengakuan kedudukan etnis masyarakat Kanekes sebagai suku
bangsa Sunda yang membedakannya hanyalah sistem religi karena tidak
menganut agama Islam.

Madrais dan aliran perjalanan

Berbeda
dengan masyarakat Baduy yang bertahan dengan tradisinya akibat desakan
pengaruh Islam, perjumpaan Islam dengan budaya Sunda dalam komunitas
lain malah melahirkan kepercayaan baru seperti yang dikembangkan Madrais
di Cigugur Kabupaten Kuningan dan Mei Kartawinata di Ciparay Kabupaten
Bandung.

Madrais semula dibesarkan dalam tradisi Islam kemudian
melahirkan ajaran baru yang mengajarkan faham Islam dengan kepercayaan
lama (pra-Islam) masyarakat Sunda yang agraris dan disebutnya sebagai
Ajaran Djawa Sunda atau Madraisme pada tahun 1921. Ia menetapkan tanggal
1 Sura sebagai hari besar seren taun yang dirayakan secara
besar-besaran antara lain dengan ngagondang (menumbukkan alu pada lesung
sambil bernyanyi). Menurut ajarannya, Dewi Sri atau Sanghyang Sri
adalah Dewi Padi yang perlu dihormati dengan upacara-upacara religius
daur ulang penanaman padi serta ajaran budi pekerti dengan mengolah hawa
nafsu agar hidup selamat. Di pihak lain, ia pun memuliakan Maulid Nabi
Muhammad, tetapi menolak Alquran dengan anggapan bahwa Alquran yang
sekarang tidak sah sebab Alquran yang sejati akan diturunkan menjelang
kiamat.

Ajaran Madraisme ini, setelah Madrais meninggal dunia
tahun 1939 dilanjutkan anaknya bernama Pangeran Tejabuana, serta cucunya
Pangeran Jati Kusumah yang 11 Juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara
Karuhun Urang (PACKU) mengharuskan para pengikutnya untuk melestarikan
ajaran karuhun Sunda dan ke luar dari agama Islam.

Sementara itu,
Mei Kartawinata (1898-1967) seorang tokoh kebatinan mendirikan aliran
kepercayaan perjalanan yang dikenal dengan "Agama Kuring" (Agamaku) dan
pendiri Partai Permai di Ciparay Kabupaten Bandung. Kisahnya, 17
September 1927, di Subang ia mendapat wangsit untuk berjuang melalui
pendidikan, kerohanian, dan pengobatan melalui perkumpulan Perjalanan
yang mengibaratkan hidup manusia seperti air dalam perjalanannya menuju
laut dan bermanfaat sepanjang jalan. Dia menulis buku "Budi Daya" tahun
1935 yang dijadikan 'kitab suci' oleh para pengikutnya. Ajaran ini
memadukan sinkretisme antara ajaran Sunda Wiwitan, Hindu, Budha, dan
Islam.

Perjumpaan Islam dengan tradisi Sunda

Berbagai
jenis kesenian tradisional asli Sunda khususnya seni Sunda buhun nyaris
punah akibat banyak ditinggalkan masyarakatnya sendiri. Sebagai seni
yang menjadi kekayaan budaya lokal, seni Sunda buhun terus kehilangan
penerusnya akibat para pelaku seninya kurang mendapat tempat dan
dihargai publik, serta terdesak seni pop modern yang dianggap lebih
menarik.

Guru Besar Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan
Indonesia, Prof. Dr. Yus Rusyana mengatakan, kondisi tradisional Sunda
buhun saat ini secara berangsur mulai menghilang. “Dewasa ini generasi
muda lebih menyenangi seni yang datangnya dari luar dibandingkan
kesenian asli milik bangsa sendiri,” ujarnya, dalam acara Rembuk Tokoh
Sunda, Menggali Akar Budaya Sunda Buhun, Senin (14/3) di Aula Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Jalan R.E. Martadinata 209
Bandung.

Acara itu dihadiri sejumlah tokoh seni dan budayawan
Sunda, seperti Prof. Saini KM, Prof. Dr. Karna Yudibrata, Dra. Hj.
Popong Otje Djunjunan, Nano S., Euis Suhaenah M. Hum, dan Pengurus PB
Pusat Pasundan Daum.

Kang Yus –demikian Yus Rusyana akrab disapa–
menegaskan bahwa saat ini seni budaya Sunda terus mengalami pergeseran.
Bahkan seni Sunda buhun yang merupakan seni leluhur sudah sulit
ditemui. Padahal, seni budaya Sunda buhun dikenal sangat kaya nilai.
Mulai dari hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan
mausia lain, hingga hubungan manusia dengan alamnya.

Untuk itu,
Yus sangat mendukung berbagai upaya pelestarian seni budaya Sunda. “Jika
tidak diantisipasi dengan langkah-langkah pelestarian, kekayaan tradisi
tersebut akan tinggal menjadi sejarah,” ujarnya.

Sementara Dra.
Hj. Popong Otje Djundjunan mengatakan, untuk membangkitkan gairah para
pelaku seni budaya Sunda buhun perlu diberikan semacam rangsangan.
“Selama ini penghargaan terhadap pelaku seni sangat jarang, padahal para
seniman tidak meminta imbalan berupa materi terhadap upayanya
melestarikan seni turun temurun. Mereka hanya ingin ada semacam
pengakuan dari pemerintah,” ujarnya.

Seni budaya Sunda buhun
semakin ditinggalkan masyarakat karena dinilai monoton sehingga tidak
memiliki daya jual yang menarik. Kondisi itu diperparah oleh tidak
adanya dukungan publik dan modal dari pemerintah sehingga jarang bisa
ditampilkan lagi di tengah masyarakat.

Untuk melestarikan seni
budaya sunda buhun yang terus menghilang, Ny. Popong mengusulkan agar
diselenggarakan kegiatan semacam ekshibisi atau tontonan secara resmi.
Seni yang digelar tidak hanya berupa seni ibing (gerak–red.) tetapi juga
seni tabeuh (pukul), maupun seni sora (suara).

Selain itu untuk
menentukan bahwa seni tersebut merupakan seni Sunda buhun perlu
ditetapkan kriteria. “Untuk menentukannya saat ini sangat sulit karena
seni Sunda sudah banyak mengadopsi seni dari luar,” ujarnya.

Hal
senada dikatakan seniman, budayawan dan guru seni di STSI Bandung, Nano
S.. Ia mengatakan, seniman Sunda buhun dewasa ini sangat tidak dihargai
lagi, tidak saja oleh masyarakatnya sendiri tetapi juga oleh pemerintah.
“Kalau memang masih mendapat tempat, bila sedang pentas pasti akan
ditonton. Pemerintah daerah pun sering menganggap para seniman itu
menjadi beban,” ujarnya.

Dikatakan Nano, dalam beberapa tahun
kebelakang seni budaya Sunda buhun dapat dipastikan akan menjadi barang
kuno bila tidak segera dilestarikan dan dikembangkan kembali. “Untuk itu
kiranya dalam memahami seni budaya Sunda buhun tidak dikaitkan dengan
akidah atau agama yang selama ini sering menjadi pagar antara boleh dan
tidak,” ujar Nano


Perjumpaan Islam dengan Budaya Sunda tidak
melanggengkan tradisi lama seperti Sunda Wiwitan dan tidak memunculkan
ajaran baru seperti Agama Djawa Sunda dan aliran kepercayaan Perjalanan
adalah adaptasi antara Islam sebagai ajaran agama dengan tradisi budaya
yang melekat di masyarakat. Hal ini dapat dipahami karena umumnya dalam
tradisi budaya masyarakat Muslim di tanah Jawa oleh Mark R. Woodward
disebut Islam-Jawa, adaptasi unsur-unsur tradisi dengan Islam tampak
sekali, misalnya adaptasi budaya dalam penamaan bulan. Bulan-bulan dalam
tradisi Jawa---termasuk juga Sunda---sebagian mengadaptasi bulan
Hijriah yaitu Sura (Muharram), Sapar (Shafar), Mulud (Rabiul Awwal),
Silih/Sawal Mulud (Rabiul Akhir), Jumadil Awal (Jumadil Awwal), Jumadil
Akhir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya'ban), Puasa (Ramadan),
Sawal (Syawal), Kapit/Hapit (Zulkaidah), dan Rayagung/Raya Agung
(Zulhijah).

Penyesuaian yang bijaksana atas sistem kalender Jawa
Kuno (tahun Saka) ke dalam sistem kalender Islam dibuat tahun 1663
Masehi oleh Sultan Agung dari kerajaan Mataram yang menetapkan tahun 78
Masehi sebagai titik awal tahun Saka. Dengan sistem penanggalan baru
tersebut, bulan pertama dalam kalender Jawa disamakan dengan bulan
pertama kalender Islam yang sekarang menginjak tahun 1936 Saka (1424 H).
Hal ini---menurut Bekki (1975) dalam "Socio Cultural Changes in a
Traditional Javanese Village"---dimungkinkan dalam kehidupan beragama di
Jawa, karena sikap lentur orang Jawa terhadap agama dari luar. Meskipun
kepercayan animisme sudah mengakar sejak zaman dahulu, orang Jawa
dengan mudah menerima agama Hindu, Budha, Islam, dan Kristen, lalu
'men-jawa-kan' semuanya.

Islamisasi di tatar Sunda selain
dibentuk oleh 'penyesuaian' juga dibentuk melalui media seni yang
digemari masyarakat. Ketika ulama masih sangat jarang, kitab suci masih
barang langka, dan kehidupan masih diwarnai unsur mistis, penyampaian
ajaran Islam yang lebih tepat adalah melalui media seni dalam
upacara-upacara tradisi.

Salah satu upacara sekaligus sebagai
media dakwah Islam dalam komunitas Sunda yang seringkali digelar adalah
pembacaan wawacan dalam upacara-upacara tertentu seperti tujuh bulanan,
marhabaan, kelahiran, dan cukuran. Seringnya dakwah Islam disampaikan
melalui wawacan ini melahirkan banyak naskah yang berisi tentang
kisah-kisah kenabian, seperti Wawacan Carios Para Nabi, Wawacan Sajarah
Ambiya, Wawacan Babar Nabi, dan Wawacan Nabi Paras yang ditulis dengan
huruf Arab, berbahasa Sunda dalam bentuk langgam pupuh, seperti Pupuh
Asmarandana, Sinom, Kinanti, Dangdanggula, dan Pangkur. Untuk mengikat
pendengar yang hadir, si pembaca naskah menguncinya dengan membaca
sebuah kalimat: Sing saha jalma anu maca atawa ngadengekeun ieu wawacan
nepi ka tamat bakal dihampura dosa opat puluh taun. Dengan khidmat, si
pendengar menikmati lantunan juru pantun yang berkisah tentang ajaran
Islam ini dari selepas isya hingga menjelang subuh.

Sejak agama
Islam berkembang di Tatar Sunda, pesantren, paguron, dan padepokan yang
merupakan tempat pendidikan orang-orang Hindu, diadopsi menjadi lembaga
pendidikan Islam dengan tetap menggunakan nama pasantren (pasantrian)
tempat para santri menimba ilmu agama. Pesantren ini biasanya dipimpin
seorang ulama yang diberi gelar "kiai". Gelar kiai ini semula digunakan
untuk benda-benda keramat dan bertuah, tetapi dalam adaptasi Islam dan
budaya Sunda, gelar ini melekat dalam diri para ulama sampai sekarang.
Di pesantren ini jugalah huruf dan bahasa Arab mendapat tempat
penyebaran yang semakin luas di kalangan masyarakat Sunda dan
menggantikan posisi huruf Jawa dan Sunda yang telah lama digunakan
sebelum abad ke-17 Masehi.

Dalam sejumlah doktrin dan ritus
tertentu, di Tatar Sunda pun berkembang ajaran Islam yang mengadopsi
unsur tapa dalam agama Hindu dan diwarnai aspek-aspek mistis dan
mitologis. Dari banyak unsur tradisi Hindu-Jawa yang tetap bertahan
adalah kesaktian, praktik tapa, dan tradisi Wayang yang terakomodasi
dalam jalan orang-orang yang mencari kesalehan normatif sekaligus
melestarikan ajaran kebatinan.

Dalam bidang arsitektur,
pembangunan arsitektur masjid dan rancang bangun alun-alun dan keraton
diwarnai perpaduan antara budaya Sunda dengan Islam. Di setiap alun-alun
kota kecamatan dan kabupaten sejak Sunan Gunung Jati berkuasa
(1479-1568) dibangun Masjid Agung yang terletak di sebelah barat
alun-alun, di samping pasar, keraton, serta penjara dengan penyesuaian
fungsi dan posisinya sebagai bangunan pusat pemerintahan kerajaan
berdasarkan Islam dengan masjid (bale nyungcung) sebagai simbol utama.
Simbol bale nyungcung ini mengisyaratkan adaptasi tempat Sanghyang
Keresa bersemayam di Buana Nyungcung (buana atas) dalam ajaran Sunda
Wiwitan.

Beberapa contoh di atas, perjumpaan Islam dengan budaya Sunda telah melahirkan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama,
pertumbuhan kehidupan masyarakat Islam dengan adat, tradisi, budaya
yang mengadaptasi unsur tradisi lama dengan ajaran Islam melalui pola
budaya yang kompleks dan beragam telah melahirkan pemikiran,
adat-istiadat, dan upacara ritual yang harmoni antara Islam dan budaya
Sunda.

Kedua, berkembangnya arsitektur baik sakral maupun profan,
misalnya masjid (bale nyungcung), keraton, dan alun-alun telah
mengadaptasi rancang bangun dan ornamen lokal termasuk pra Islam ke
dalam rancang bangun arsitektur Islam.

Ketiga, berkembangnya seni
lukis kaca dan seni pahat yang menghasilkan karya-karya kaligrafi Islam
yang khas, kesenian genjring dan rebana yang berasal dari budaya Arab,
dan berbagai pertunjukkan tradisional bernapaskan Islam dengan mudah
merasuki kesenian orang Sunda yang seringkali muncul dalam pentas seni
dan pesta-pesta perkawinan.

Keempat, pertumbuhan penulisan
naskah-naskah keagamaan dan pemikiran keislaman di pesantren-pesantren
telah melahirkan karya-karya sastra dalam bentuk wawacan, serat suluk,
dan barzanji yang sebagian naskahnya tersimpan di keraton-keraton
Cirebon, museum, dan di kalangan masyarakat Sunda, dan

Kelima,
berbagai upacara ritual dan tradisi daur hidup seperti upacara tujuh
bulanan, upacara kelahiran, kematian, hingga perkawinan yang semula
berasal dari tradisi lama diwarnai budaya Islam dengan pembacaan
barzanji, marhabaan, salawat, dan tahlil.

Karena itulah, tidak
bisa dimungkiri bahwa perjumpaan Islam dengan budaya dan komunitas
masyarakat di wilayah tatar Sunda telah melahirkan tiga aspek
religiusitas yang berbeda. Pertama, terkungkungnya satu wilayah religius
yang khas dan terpisah dari komunitas Muslim Sunda di Kanekes (Baduy)
yang melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan; kedua lahirnya tradisi, budaya,
dan religi baru yang mencampurbaurkan antara ajaran Islam dengan
tradisi sebelumnya seperti yang dikembangkan dalam Ajaran Jawa Sunda di
Cigugur Kuningan dan aliran kebatinan Perjalanan di Ciparay Kabupaten
Bandung; dan ketiga terciptanya kehidupan harmoni dan ritus keagamaan
yang berasal dari Islam dengan tradisi yang telah ada dan satu sama lain
saling melengkapi.

Terlepas dari itu semua, pemahaman
pelaksanaan adaptasi dan harmoni antara Islam sebagai ajaran agama
dengan tradisi Sunda sebagai adat istiadat warisan budaya lama disadari
akan menimbulkan pemaknaan yang berbeda. Di satu pihak ada yang
menganggap bahwa berbagai upacara tradisi itu adalah adat istiadat yang
perlu tetap dilestarikan dan sejalan dengan agama Islam, bahkan menjadi
'sunah', sebaliknya di pihak lain ada yang beranggapan bahwa ajaran
Islam yang diwarnai oleh tradisi dan budaya Sunda adalah bentuk
perbuatan bidah.

Tradisi

Bahwa tradisi makan menunjukkan
budaya masyarakatnya, tecermin dalam cara makan orang yang egaliter.
Tradisi makan masyarakat Sunda yang tinggal di daerah pedesaan
memperlihatkan budaya masyarakatnya yang egaliter. Bentuk rumah dan
pembagian ruangannya yang sederhana tidak membutuhkan peralatan rumah
tangga yang dianggap tidak perlu. Ruang tengah dijadikan ruang keluarga,
sekaligus menjadi ruang makan. Ruang ini sering kali tidak dilengkapi
dengan meja makan. Mereka makan dengan cara lesehan di atas sehelai
tikar yang dihamparkan.

Tradisi makan sebagai budaya suatu etnis
bisa juga dilihat dari rumah-rumah makan etnis di berbagai daerah. Jika
kita memasuki rumah makan padang, nasi yang dihidangkan sekadarnya saja.
Yang paling banyak justru lauk berbagai jenis masakan. Ada ayam pop,
ayam goring, daging rendang, goreng dendeng dan limpa, masakan otak,
kukus daun singkong atau pakis, dan lainnya. Kuahnya dibuat dengan
santan kental. Untuk cuci mulut, disediakan buah-buahan.

Rekan J
Mathias Pandoe dari Padang menceritakan, dalam kehidupan sehari-hari,
orang Minang bisa menghabiskan separuh penghasilannya untuk makan.
Maksudnya, makan tidak asal kenyang, tetapi—ya itu tadi—makanannya
banyak mengandung gizi

Wayang Golek Moderen

Wayang golek
modern merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang terdapat di
Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Wayang golek modern ditemukan oleh
Dalang Partasuwanda (alm). Seperti halnya wayang golek biasa, lakon yang
dibawakan wayang golek modern yaitu cerita wayang purwa, yang
membedakannya yaitu dalam wayang golek biasa dalangnya hanya seorang,
antawacana pun dilakukan oleh seorang. Sedangkan dalam wayang golek
modern, dalangnya lebih dari satu orang dan kadang-kadang antawacananya
pun dibantu oleh dalang lain yakni setiap satu wayang satu dalang.

Dalam
adegan perang, apabila keris atau senjata yang dipergunakan beradu,
terdengar bunyi sesuai dengan bunyi aslinya, bahkan terlihat cahaya
seperti kilat atau petir. Dalam adegan kocak atau lawakan yang
diperankan oleh Si Cepot dan saudaranya, diperagakan dia naik motor atau
mobil bahkan naik pesawat terbang, dan suaranya sama seperti suara
aslinya. Ketika Si Cepot terlibat perkelahian, dia menggunakan senjata
mesin seperti mortir dengan pelurunya yang kelihatan berhamburan dan
kilatan cahaya yang mirip dengan cahaya pada senjata aslinya.

Pada
jagat (gedebog pisang) pentas wayang golek modern dipasang layar yang
dapat ditutup dan dibuka seperti dalam pertunjukan sandiwara di sebuah
gedung. Di latar belakangnya pun ada seben yang gambarnya sesuai dengan
adegan yang sedang berlangsung seperti dalam adegan keraton ditampilkan
gambar ruangan keraton lengkap, dalam adegan di hutan ditampilkan
pohon-pohon yang rindang. Selain gambar pohon-pohonan, pohon kecil pun
disiapkan.

Gamelan wayang golek modern ditempatkan di depan layar
yaitu di depan jagat. Pesinden berada di depan yang terdiri dari
beberapa orang duduk berjejer. Apabila sedang melantunkan lagu-lagu yang
dapat menampilkan adegan joget, pesinden pun ikut berjoget. Bahkan,
atas permintaan penonton pesinden berjoget dengan penonton. Apalagi
sekarang, dengan lagu-lagu dangdut sudah biasa ditampilkan dalam
pagelaran wayang atau kiliningan, pesinden harus mau turun melantai.

Selain
wayang golek lengkap sebagai perlengkapan utamanya, perlengkapan
lainnya seperti layar, lampu-lampu yang beraneka ragam, tepung atau
bedak dan bunga es pun dipersiapkan. Waditranya, selain gamelan salendro
dan pelog, ada pula tambahan kecapi, gitar dan kadang-kadang bongo.
Sekarang mungkin elektone atau organ pun dimasukkan apabila wayang golek
modern ini masih dipertunjukkan.

Di Kota Bandung, tepatnya di
Gang Ihi, dulu pernah ada perkumpulan kesenian yang tergabung dalam
Lingkung Seni Pusaka Siliwangi pimpinan Kapten Permana. Dalam
perkumpulan kesenian ini, selain degung, kecapian dan lawakan terdapat
pula wayang golek modern. Akan tetapi, sekarang lingkung seni tersebu
telah pindah alamat ke Ciparay, Majalaya, Kabupaten Bandung.

Wayang
golek modern terakhir dipertunjukkan adalah dalam HUT Bayangkara dari
Grup Kepolisian. Tempatnya di lapangan Brimob Sukajadi. Dalam
pertunjukan tersebut, pesindennya hanya satu orang. Gamelan ditempatkan
di belakang layar sehingga tidak terlihat oleh penonton. Ini berbeda
dengan pertunjukan wayang golek modern yang ditampilkan oleh Grup Wayang
Golek Modern Pusaka Siliwangi.

Di televisi pernah juga ada
pertunjukan wayang golek yang di belakang para pemainnya agak ke atas
terdapat layar besar. Ketika dalang menampilkan adegan perkelahian, di
layar tersebut ditampilkan adegan perkelahian yang diperagakan oleh para
penari latar. Selain itu, ada pula yang memasang jagat dua pasang, sama
seperti halnya wayang golek modern. Ketika pertunjukan sedang
berlangsung, dalang yang berada di belakang mempertunjukkan adegan
lainnya namun tanpa antawacana. Ketika ada adegan perkelahian, dalang di
belakang pun mempertunjukkan perkelahian namun tokohnya berbeda.
Pertunjukan ini disajikan oleh Kelompok Pedalangan STSI Bandung.
avatar
Admin
Admin

Jumlah posting : 50
Join date : 30.01.11

Lihat profil user http://sky-line.n-stars.org

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik